Selasa, 24 Juli 2018

Mengenang Seulawah (Dakota DC3 RI-001) Pesawat Angkut Pertama di Era Kemerdekaan Republik Indonesia

Setelah Proklamasi tahun 1945, sebuah Negara yang baru saja lahir dari rahim Ibu pertiwi bernama Indonesia terus berjuang mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan melalui tetesan keringat dan darah para pahlawan, tak hanya keringat dan darah, rakyat Indonesia dengan segenap kekuatan mengorbankan harta benda yang mereka miliki demi tercapainya cita-cita Kemerdekaan. Rakyat Aceh yang merupakan bagian dari bangsa besar ini menyumbangkan sebuah Pesawat angkut pertama jenis Dacota DC3 yang kemudian diberi nama Seulawah (Dacota RI-001).
Sejarah Pesawat Seulawah.
Seulawah adalah Pesawat angkut pertama Indonesia yang sangat berjasa dalam mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Bukti kecintaan dan sikap patriotisme rakyat Aceh terhadap republik.
Pesawat Dacota DC-3 ini diberi nama Seulawah yang artinya Gunung Emas, nama tersebut merujuk pada sebuah gunung api besar di Aceh. Pesawat Seulawah menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama nusantara, Indonesian Airways yang kemudian menjadi Garuda Indonesia.
Pesawat ini dibeli dari sumbangan rakyat Aceh atas permintaan Presiden Soekarno saat datang ke Aceh secara khusus pertengahan Juni 1948. Saat itu Soekarno bertemu dengan Gubernur Militer Aceh Daud Beureuh di Hotel Aceh samping masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Presiden RI pertama tersebut meminta bantuan secara langsung ke Gubernur Militer Aceh tersebut dalam rangka pembelian pesawat. Tujuan pembelian pesawat tersebut dalam rangka untuk memperkuat pertahanan Negara dan menghubungkan antar pulau dan juga sebagai penembus blockade Belanda yang mulai kembali menguasai bumi Nusantara melalui agresi militer ke II Belanda. Bahkan pusat pemerintahan Indonesia saat itu yang berada di Yogyakarta mulai dikuasai oleh Belanda.
 “Saya tidak akan makan malam ini, kalau dana untuk itu tidak terkumpul,” kata Soekarno dalam pertemuan diselenggerakan Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) itu.
Ketua GASIDA, Muhammad Djuned Yusus yang hadir dalam forum, langsung menyanggupinya. Bersama Said Muhammad Daud Alhabsyi, ia memimpin Dakota Found, panitia penggalangan dana. Para saudagar menyumbangkan uang dan emas. Sementara rakyat biasa ikut mengumpulkan hasil pertanian dan peternakannya untuk disumbang ke panitia. Alhasil dalam dua hari terkumpul dana setara 20 kilogram emas atau 130 ribu dolar Singapura.
Versi lain menyebutkan, saat itu Daud Beureueh yang iba dengan Soekarno langsung memerintahkan langsung Abu Mansor, sekretarisnya untuk mengumpulkan sumbangan.
Menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Abdurrahman Kaoy, saat itu Abu Mansor datang ke Pasar Atjeh memungut sumbangan dari warga yang berada di pasar tradisional samping Masjid Baiturrahman itu. “Mereka dengan ikhlas memberikan perhiasan, emas, dan segala barang berharganya untuk disumbangkan,” ujarnya.
Sebelum kembali ke Pulau Jawa membawa sumbangan rakyat Aceh, dalam pertemuan akbar dengan rakyat Aceh di Lapangan Blang Padang, Soekarno berorasi mengajak rakyat Aceh membantu perjuangannya.
“Aku meminta kepadamu hai pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, ulama-ulama, saudara-saudara, anak-anakku dari angkatan perang, segenap pegawai, segenap rakyat jelata yang berkumpul di sini, di seluruh daerah Aceh, marilah kita terus berjuang,” katanya.
Dalam kunjungannya ke Aceh, Soekarno juga berpesan khusus kepada Daud Beureueh yang ia panggil Kakak, agar mengajak rakyat Aceh membantu perjuangan mengusir Belanda yang masih bercokol di berbagai daerah di nusantara.
“Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”
“Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid,” jawab Daud Beureueh.
“Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid,” timpal Soekarno.
Sekembali ke Pulau Jawa, sumbangan terkumpul dari Aceh dipakai untuk membeli pesawat jenis Dakota DC-3 melalui Singapura pada Oktober 1948, oleh perwira penerbangan Wiweko Soepono yang akhirnya menjadi Direktur Utama garuda. Diberi registrasi RI-001 Seulawah, inilah pesawat angkut pertama milik Indonesia dan cikal bakal berdirinya Indonesian Airways yang saat itu berkantor di Burma (Myanmar), karena sebagian besar wilayah nusantara masih dikuasai Belanda.
Awal mulanya Seulawah beroperasi sebagai penghubung Jawa dan Sumatera, mengangkut berbagai kebutuhan obat-obatan dari Burma dan India dengan menembus blokade-blokade Belanda. Pesawat terbang ini juga berperan dalam penyelundupan senjata berikut amunisi dan perangkat komunikasi dari Burma ke Aceh sebagai logistik perang melawan Belanda. Melalui perangkat Radio hasil selundupan inilah yang mampu mengabarkan ke Dunia luar bahwa “Indonesia masih ada”.
Penerbangan pesawat Seulawah saat itu biasa beroperasi pada malam hari, hal ini dilakukan agar tidak terdeteksi musuh (belanda-red). Pesawat mendarat di Lapangan Udara Lok Nga atau sekarang menjadi Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Biasanya setelah mendapat kabar pesawat Seulawah akan mendarat, para pemuda Aceh membakar daun kelapa kering sebagai tanda bahwa lokasi siap didarati pesawat. Siang harinya badan pesawat ditutupi dengan daun dan rerumputan agar tak terlihat oleh pasukan Belanda.
Pesawat yang merupakan hasil dari sumbangan barang-barang pribadi rakyat Aceh ini selain digunakan sebagai transportasi Soekarno dalam lawatannya ke berbagai daerah di Sumatera dan Jawa untuk mendapat dukungan kemerdekaan RI ke segenap penjuru tanah air, juga digunakan sebagai kendaraan kenegaraan Soekarno dalam menjalin diplomasi demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ke berbagai Negara. Beberapa tokoh Bangsa saat itu pernah diangkut oleh pesawat ini saat menjalin hubungan internasional dalam memperoleh dukungan kemerdekaan dari Internasional.
Saat memanasnya Agresi militer Belanda saat itu RI-001 Seulawah sempat dilarang kembali ke Indonesia dan tertahan di Burma, namun akhirnya tahun 1949 Dacota DC-3 Seulawah Pemerintah Myanmar menyewa pesawat ini sebagai pesawat angkut Negara tersebut yang sedang mengalami gejolak pemberontakan di dalam negerinya. Selain sebagai pesawat pengangkut, di Myanmar Seulawah juga ikut dipakai dalam misi operasi militer.
Mengingat besarnya jasa pengorbanan rakyat Aceh yang telah menyumbangkan harta mereka dalam pembelian pesawat Dacota DC3 Seulawah RI-001 tersebut, dibangun sebuah replica Dakota-RI-001 Seulawah di Lapangan Blang Padang yang kemudian diresmikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara pada 29 Juli 1984 yang saat itu dijabat oleh Marsekal Sukardi dan Gubernur Aceh saat itu Hadi Tajeb. Ini merupakan monumen replika pesawat RI pertama sedangkan pesawat aslinya tersimpan di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.
Monumen RI-001 Seulawah kini menjadi salah satu situs wisata sejarah di Banda Aceh. Bukti cinta rakyat Aceh kepada Ibu Pertiwi yang tetap kokoh berdiri walau sempat diterjang tsunami 26 Desember 2004. (bandaacehtourism/wikipedia/Gloopic/KI)
Artikel Terkait

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Art and Culture Indonesia

Menjelang tanggal 9 Agustus 2016, kelihatan kesibukan luar biasa di Teminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Direncanakan pada hari selasa dini hari pada tanggal tersebut, Terminal yang megah ini akan mulai digunakan.  Semua pihak yang terlibat dalam pembangunan dan pengoperasian bekerja keras merampungkan persiapan akhir.
 
Terminal dengan luas bangunan  380.000 M2  dapat mampu menampung penumpang  25  juta per tahun,  dengan  5 main gate, 6 island checkin, 13 gate departure dilengkapi  44 unit garbarata.  Keseluruhan luas bangun terminal 3 ini temasuk bangunan penunjang 422.804 M2, dengan panjang sekitar 1 kilometer.  Ada pun  kapasitas bandara ini setelah terminal 3 beroperasi  penuh menjadi  43 juta penumpang per tahun.
 
Selanjutnya, kapasitas bandara soekarno hatta akan ditingkatkan hingga mencapai 80 juta penumpang per tahun secara bertahap,  dengan pengembangan Terminal 1 dan 2, serta sisi udara yang meliputi runway ketiga dan east cross taxiway.  Terminal 3 dilengakapi  dengan peralatan dan teknologi  terkini yang dianggap mumpuni,  dan mampu menampung  semua jenis pesawat  lebar yang beroperasi  saai ini.
 
Mengingat tinggi bangunan Terminal ini sekitar 50 meter, nantinya para calon penumpang dapat menikmati pemandangan sekeliling Bandara Soetta dari lokasi drop off ataupun di dalam terminal.
Mengenai moda transportasi yang nantinya menjadi pilihan para penumpang,  AP II menyiapkan dua moda transportasi, yaitu bus dan kereta monorel.  Monorel‎ ini nantinya akan menghubungkan dari Terminal 3 ke Stasiun Bandara dan beberapa terminal lainnya.  Monorel dimaksud akan melintas setiap 4 menit dan mampu mengangkut 100-200 orang dalam sekali jalan.
Tak hanya itu, tidak perlu ke luar Bandara, bahkan keluar Terminal, di dalam Terminal ini juga disiapkan  hotel. Sisi kanan dan kiri Terminal  dilengkapi  fasilitas parkir bertingkat.
 
Terminal 3 ini  didesign dengan konsep art and culture. Di mana akan disajikan beberapa ornamen-ornamen yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia, salah satunya batik. Di dalam Terminal juga terdapat tempat santai yang bisa dijadikan berbagai pameran yang bisa dinikmati para penumpang.
Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta ini akan menawarkan pengalaman unik yang   tidak akan ditemui di Changi atau bandara lainnya. “Kearifan lokal, ada lukisan,  patung, batik, tenun dan sebagainya.”

(Berbagai Sumber/Gloopic/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Stabilitas dan Kendali Pesawat Terbang

Oleh : Prof. Hadi Winarto (RMIT University)
Stabilitas dan Kendali Pesawat adalah benda 3 dimensi dan pergerakannya didalam ruang 3 dimensi sangat rumit. Bila pesawat dianggap sebagai sebuah titik masa yang terletak dititik pusat gravitasinya, maka studi tentang pergerakannya dapat disederhanakan. Sebuah sistem koordinat Kartesian dapat dirumuskan terpaku disebuah ruang, dengan 3 sumbu yang saling tegak lurus satu dengan yang lain, diberi simbol x, y dan z. Gerak translasi titik massa tersebut kemudian dapat dipelajari dengan mempertimbangkan kondisi kesetimbangan gaya diarah masing2 garis sumbu tadi. Tetapi dalam kenyataan pesawat adalah sebuah benda 3 dimensi yang berbentuk rumit, yang bisa bergerak rotasi (gerak putar) disamping bergerak translasi (gerak tanpa putaran).
Pergerakan pesawat diatmosfer bumi melibatkan gaya-gaya aerodinamika, yang besarannya tergantung pada gerakan pesawat itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa analisa pergerakan pesawat secara umum menjadi sangat rumit. Untuk mengurangi kerumitan masalah, kita harus merumuskan sistem koordinat yang bergerak dan berputar relatif terhadap sebuah kerangka acuan yang terpaku diruang, dan kemudian menganalisa pergerakan pesawat pada saat tertentu, bukan pergerakannya dengan waktu yang jelas sangat rumit. Ekuilibrium (kesetimbangan) gaya hanya melibatkan massa dari komponen-komponen pesawat, yang tidak tergantung pada sistem koordinat yang digunakan. Disisi lain ekuilibrium momen untuk gerak rotasi melibatkan atau membutuhkan informasi tentang momen inersia dari komponen-komponen pesawat, yang besarannya sangat tergantung pada sistem koordinat (sistem sumbu) yang dipilih.
Hitungan momen inersia itu sangat rumit secara umum, tetapi dapat disederhanakan apabila benda yang dipelajari memiliki sebuah sumbu simetri. Analisa pergerakan pesawat dapat lebih mudah dilakukan dengan memilih sumbu simetri itu sebagai salah satu sumbu utama dalam sistem koordinat Kartesian yang dipilih. Titik pusat sistem koordinat selalu dipilih berada dititik pusat gravitasi benda walaupun kerangka acuan yang digunakan dapat dipilih dengan beberapa cara. Sebuah sistem koordinat yang terpaku pada sebuah benda dan bergerak dengan benda itu, disebut sistem koordinat benda (body axes system). Sumbu-x positif dipilih sepanjang garis acuan badan pesawat (fuselage reference line atau FRL) dengan arah dari ekor menuju kehidung pesawat. Sumbu-y, yang tegak lurus pada sumbu-x dibidang datar, dipilih bertanda positif kearah sayap kanan. Sumbu-z yang tegak lurus pada sumbu-x dan sumbu-y ditentukan berdasarkan aturan tangan kanan, yaitu ibu jari searah dengan sumbu-z positif apabila jari-jari yang lain memberikan arah putaran dari arah sumbu-x ke arah sumbu-y. Jadi untuk system sumbu yang dijelaskan diatas, arah sumbu-z positif adalah arah kebawah, bukan keatas. Aturan tangan kanan ini sangat penting dan selalu digunakan dalam menentukan apakah sebuah arah disebut positif atau negatif.
Dari segi ilmu aerodinamika kita tahu bahwa hitungan gaya-gaya aerodinamika, yaitu lift (gaya angkat) dan drag (gaya hambat), dapat dilakukan dengan lebih mudah, apabila sistem koordinat yang dirumuskan adalah yang terpaku relatif terhadap arah angin, yang biasanya searah dengan garis horizontal dan bertanda positif dari kiri kekanan. Sistem koordinat yang terpaku relatif pada arah angin ini tentu saja dikenal sebagai sistem koordinat angin, yang tidak selalu harus mengacu pada arah yang sama dengan arah sumbu di sistem koordinat benda. Sebuah sistem koordinat lainnya juga dapat dipilih, yang terpaku pada benda, tetapi arah sumbu-x nya selalu dipilih berlawanan dengan arah angin atau searah dengan gerak benda., bukan searah dengan FRL (arah garis acuan badan pesawat dari ekor ke hidung). Sistem koordinat ini disebut sistem koordinat stabilitas, dan sistem koordinat inilah yang selalu digunakan dalam menganalisa masalah-masalah stabilitas dan kendali (stability and control) pesawat. Perhatikan bahwa dalam kenyataan pesawat memiliki sebuah bidang simetri kiri kanan, yaitu bidang vertikal yang membelah pesawat menjadi 2 bagian yang masing-masing adalah bayangan simetri cermin satu dari yang lain. Bidang ini selalu dirumuskan sebagai bidang x-z dalam sistem koordinat stabilitas (yang merupakan kasus khusus dari sistem koordinat benda), tetapi arah-x positif searah gerak pesawat atau berlawanan arah dengan arah angin, dan bukan searah dengan garis acuan FRL. Pergerakan pesawat dibidang simetri ini disebut gerak longitudinal, yang terdiri dari gerak translasi arah sumbu-x dan arah sumbu-z, ditambah dengan gerak rotasi seputar sumbu-y. Gerak putar seputar sumbu-y tentu saja mengubah sudut angguk (pitch attitude) pesawat, jadi disebut gerak angguk, sedangkan dalam gerak rotasi, sumbu-y dikenal sebagai sumbu angguk atau pitch axis. Disamping gerak translasi arah x atau arah z, pesawat bisa juga bergerak translasi arah sumbu-y. Pesawat bisa juga bergerak rotasi seputar sumbu-x dan sumbu-z. Pergerakan translasi arah y disebut gerak samping (side slip) dan merupakan gerak yang harus dilakukan supaya pesawat bisa belok, bukan hanya sekedar mampu bergerak lurus ke depan. Untuk bergerak kearah samping, pesawat harus digulingkan dan sayap pesawat membentuk sudut guling (bank angle) dengan arah horizontal. Arah lift (gaya angkat) dengan demikian membentuk sudut guling dengan arah vertikal keatas, jadi memiliki komponen arah kesamping. Komponen lift arah ke samping inilah yang menggerakan pesawat dengan gerak translasi arah samping atau side slip itu tadi. Jadi gerak rotasi seputar sumbu-x dan gerak translasi arah samping itu terkait sangat erat, dan dikenal sebagai gerak lateral. Gerak putar seputar sumbu-x itu dikenal sebagai putaran guling atau roll. Saat bergerak samping, sirip ekor tegak pesawat akan kena dorongan angin. Misalnya saja pesawat bergerak samping kekanan, maka angin akan mendorong sirip tegak kearah kiri, sehingga moncong pesawat akan berputar kekanan. Gerakan rotasi seputar sumbu-z ini disebut gerak directional yang membelokkan moncong pesawat ke arah gerak belok yang diinginkan, bukannya sekedar gerak samping tergelincir saja. Jadi gerak lateral itu terkait cukup erat dengan gerak directional, dan biasanya pergerakan ini disebut gerak lateral-directional, yang dipelajari sebagai satu kesatuan. Gerak putar seputar sumbu-z ini dikenal sebagai putaran geleng atau yaw. Perhatikan bahwa pergerakan umum pesawat telah kita bagi menjadi 2 bagian yang tidak terkait satu sama lain, yaitu gerak longitudinal dan gerak lateral-directional. Kenyataan ini sangat membantu dalam menyederhanakan masalah, dimana masalah stabilitas dan kendali secara umum dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang masing2nya dapat dipelajari sendiri tanpa harus mempertimbangkan masalah yang lain. Dengan demikian masalah gerak pesawat dapat dipelajari menjadi Pergerakan Longitudinal, dan Pergerakan Lateral-Directional. Gerak Longitudinal melibatkan 2 persamaan atur tentang ekuilibrium gaya, yaitu arah x dan arah z, dan 1 persamaan atur ekuilibrium momen diseputar sumbu-y. Gerak Lateral-Directional melibatkan 1 persamaan atur ekuilibrium gaya arah y, dan 2 persamaan atur ekuilibrium momen yaitu seputar sumbu x dan sumbu z. Dipandang dari segi kendali, pilot dapat mengatur gerak angguk dengan menggerakkan permukaan kendali elevator, yang bila diputar keatas akan membuat pesawat mendongak (mengangguk keatas) Gerak geleng dapat diatur dengan menggerakkan permukaan kendali rudder, sedangkan gerak putar guling diatur oleh permukaan kendali aileron. Dengan memecah masalah stabilitas dan kendali pergerakan pesawat, jumlah persamaan yang harus diselesaikan secara serentak dapat dikurangi menjadi hanya separo saja. Dipandang dari segi penyelesaian sistem persamaan simultan, hal tersebut jelas sangat membantu mengurangi jumlah hitungan yang harus dilakukan. Walaupun hitungan dalam masalah dinamika terbang dikerjakan dengan bantuan komputer, memecah masalah menjadi 2 bagian yang lebih kecil tetap bermanfaat, karena lama waktu mesin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah sistem persamaan simultan dapat diperkecil, jauh lebih kecil dari sekedar separo untuk hitungan seluruh sistem persamaan kalau tidak dipecah menjadi 2 bagian. Disamping itu dari segi pekerjaan pilot, pemisahan gerak longitudinal dari pergerakan lateral-directional berarti bahwa pilot tidak perlu memikirkan dampak pada gerak longitudinal saat dia menerapkan rudder dan aileron, dan sebaliknya kalau dia ingin mengubah sudut angguk pesawat dia hanya perlu menerapkan elevator saja. Di bawah ini disampaikan beberapa gambar yang membantu mempermudah pengertian masalah.
Gambar 1. Sistem Koordinat Benda terpaku pada Pesawat
Gambar 2. Permukaan Kendali untuk gerak rotasi

Sumbu Acuan Pesawat Untuk membantu dan memudahkan upaya penayangan semua gaya dan momen yang beraksi pada pesawat, kita perlu menentukan sebuah sistem sumbu yang saling tegak lurus satu dengan yang lain dengan titik pusat sumbu berada di titik pusat gravitasi atau titik pusat massa.
Gambar 3 menunjukkan sebuah sistem konvensional berbasis aturan tangan kanan.
Sumbu-x disebut sumbu longitudinal dan berada dibidang simetri, searah FRL (fuselage reference line) atau garis badan pesawat dari ekor kearah hidung. Momen seputar sumbu-x disebut Momen Guling (rolling moment) dan diberi simbol L. Arah positf momen ditentukan berdasarkan aturan tangan kanan. Jadi bila pandangan kita adalah dari ekor menuju hidung pesawat maka momen guling positif terlihat searah putaran jarum jam. Sumbu lain yang berada di bidang simetri arah vertikal dan tegak lurus pada sumbu-x adalah sumbu-z yang arah positifnya adalah kebawah. Momen seputar sumbu-z disebut Momen Geleng (yawing moment) dan diberi simbol N. Putaran positif momen geleng sesuai aturan tangan kanan adalah searah putaran jarum jam bila pandangan kita adalah dari atas melihat ke pesawat yang berada dibawah. Sumbu-y (sumbu lateral) atau sumbu yang tegak lurus pada sumbu simetri ditentukan berarah positif kearah kanan menuju keujung sayap kanan dari ujung sayap kiri. Momen seputar sumbu-y disebut Momen Angguk (pitching moment) dan bertanda positif bila memutar hidung pesawat mendongak keatas dan negatif bila membuat pesawat menunduk kebawah. Momen ini diberi simbol M dan arah positif atau negatif putarannya seperti dijelaskan sebelumnya juga sesuai dengan aturan tangan kanan. Untuk membantu membayangkan konsep-konsep yang dijelaskan di atas, di bawah ini diberikan satu lagi gambar yang menjelaskan sistem sumbu acuan pesawat serta arah putaran dari ke tiga momen yang boleh jadi beraksi pada pesawat Ulasan Ulang Garis Besar Stabilitas dan Kendali Pesawat Ada banyak ahli aerodinamika yang mengatakan bahwa walaupun Wright Bersaudara itu adalah pionir penerbangan yang bekerja dengan cermat dan teliti, selalu mengikuti prosedur yang telah ditentukan, tetapi sebenarnya mereka belum memahami konsep-konsep dalam masalah stabilitas dan kendali pesawat. Mereka berhasil menerbangkan pesawat untuk pertama kalinya, dimana ada banyak yang telah mencoba sebelumnya dan gagal, karena mereka telah melakukan banyak sekali upaya-upaya mengumpulkan data dan pengalaman dari percobaan-percobaan yang mereka lakukan sebagai persiapan. Pengetahuan mereka diperoleh dari uji coba, seperti halnya dengan para penerbang gantolle jaman sekarang yang belajar dari pengalaman dari percobaan yang gagal dlsbnya. Namun demikian pesawat Wright Bersaudara ternyata memiliki stabilitas dan kendali yang memadai. Stabilitas dan kendali adalah 2 konsep yang saling terkait. Kalau pesawat dibuat menjadi sangat stabil maka akan sangat sulit untuk ber manuver. Tetapi kalau pesawat hanya sedikit stabil, maka akan sangat mudah ber manuver, hanya saja menjadi sangat sulit untuk diterbangkan atau memiliki sifat terbang yang jelek (poor handling capability). Pilot biasanya men-trim atau menyetel permukaan-permukaan kendali pesawat supaya pesawat akan terbang dengan pilot “lepas tangan” tidak harus selalu memegangi stik kendali (control stick). Dengan demikian pilot bisa melakukan hal-hal lain seperti minum kopi, baca peta dlsbnya. Stik kendali itu bahkan bisa dilepas bebas tanpa memanfaatkan kendali otomatis, dan pesawat akan tetap berada pada kondisi terbang datar walaupun terkena terpaan angin lesus (gusts) yang menggoncangkan pesawat. Hal ini hanya akan terjadi bila 2 persyaratan sifat pesawat yang dicatat dibawah ini dipenuhi: Ekuilibrium atau trim : resultante semua gaya dan momen seputar pusat gravitasi harus berjumlah nol Stabilitas : Apabila ekuilibrium pesawat mengalami gangguan , pesawat harus stabil yaitu cenderung kembali ke kondisi ekuilibrium atau kondisi trim seperti sebelumnya.
Gambar 4. Stabilitas Statik
Gambar 5. Stabilitas Statik
Stabilitas Statik Stabilitas Statik sebuah sistem dirumuskan sebagai kecenderungan awal untuk kembali ke kondisi ekuilibrium setelah sistem terkena gangguan yang mengubah ekuilibrium. Apabila sebuah objek diganggu dari kondisi ekuilibriumnya dan ternyata cenderung kembali pada kondisi ekuilibrium sebelumnya maka objek tersebut dikatakan memiliki stabilitas statik positif. Sebaliknya apabila objek tersebut cenderung semakin menjauhi kondisi ekuilibriumnya setelah menerima gangguan, maka objek tersebut dikatakan memiliki stabilitas statik negatif. Apabila objek tidak cenderung kembali atau menjauhi kondisi ekuilibrium, dan tetap berada pada kondisi setelah menerima gangguan maka objek tersebut memiliki stabilitas statik netral.
Konsep-konsep tersebut diatas dapat lebih mudah dimengerti dengan mengacu ke gambar 4 dan 5. Sebuah contoh mengenai stabilitas dapat dibayangkan dengan mengambil sebuah kayu penggaris. Peganglah penggaris tersebut arah keatas dengan tanganmu. Ini dapat dilakukan tetapi cukup sulit karena penggaris tersebut tidak stabil. Sekarang peganglah penggaris itu arah kebawah dan berikan sedikit dorongan ke samping, misalnya kekiri atau kekanan. Penggaris akan berayun tetapi cenderung kembali ke arah vertikal, jadi dalam kasus ini penggaris bersifat stabil. Sekarang peganglah penggaris tersebut dititik tengahnya. Dan dorong ujungnya ke samping. Penggaris tidak akan kembali ke kondisi ekuilibriumnya, tetapi juga tidak akan menjauhi kondisi ekuilibrium dan akan tetap berada pada posisi setelah diganggu. Untuk kasus ini penggaris memiliki stabilitas statik netral (lihat gambar 4) Contoh lain tentang stabilitas statik dapat dilihat pada gambar 5 dimana pergerakan sebuah kelereng diteliti. Untuk kasus kelereng dalam mangkuk, posisi kelereng dalam kondisi ekuilibrium adalah berada didasar mangkuk. Apabila kelereng didorong kesamping, bergerak naik sepanjang dinding, kemudian kelereng tersebut dilepas, maka kelereng akan bergerak turun menuju kedasar mangkuk (kondisi ekuilibrium). Jadi untuk kasus ini kelereng memiliki stabilitas statik positif alias stabil dalam kondisi statik. Apabila mangkuk dibalik dan kelereng diletakkan dibagian paling atasnya, maka kalau kelereng diberi sedikit dorongan ke samping, kelereng akan menjauhi kondisi ekuilibrium tersebut alias akan jatuh kebawah. Untuk kasus ini kelereng disebut tak stabil atau memiliki stabilitas statik negatif. Apabila kelereng berada pada sebuah bidang datar, kemudian didorong bergeser berada dilokasi baru, maka setelah gangguan dorongan dilepas, kelereng tetap berada pada posisinya yang baru. Jadi kelereng tidak cenderung kembali atau menjauhi posisi ekuilibrium semula. Dalam kasus ini kelereng bersifat netral atau memiliki stabilitas statik netral. Dalam kasus kelereng dalam mangkuk, perhatikan bahwa setelah gangguan dilepas kelereng memang cenderung kembali ke posisi ekuilibrium semula yaitu berada didasar mangkuk. Tetapi kelereng tidak akan berhenti begitu saja saat telah sampai didasar mangkuk. Gerakan kelereng mengalami “overshoot” alias kebablasan dan bergerak menaiki dinding sebelah. Kelereng akan mencapai satu titik tertinggi dalam gerak kebablasannya, dan titik tertinggi ini sedikit lebih rendah dari titik tertinggi sebagai akibat gangguan pada awalnya. Kelereng kemudian akan jatuh kembalai menaiki dinding awalnya, tetapi mencapai titik yang lebih rendah lagi. Gerakan bolak balik alias osilasi ini terjadi berulang kali sampai akhirnya gesekan dinding membawa kelereng kembali ke titik ekuilibrium yaitu didasar mangkuk. Uraian yang baru saja diberikan memberikan penjelasan tentang stabilitas dinamik sebuah benda atau sistem. Stabilitas statik adalah kecenderungan awal untuk kembali ke posisi ekuilibrium semula, sedangkan stabilitas dinamik memberikan kecenderungan tersebut sebagai fungsi waktu.
Stabilitas Dinamik Stabilitas dinamik berbeda dari stabilitas statik, karena stabilitas statik hanya memeriksa kecenderungan awal sebuah benda untuk kembali ke kondisi ekuilibriumnya. Disisi lain stabilitas dinamik berkaitan dengan kecenderungan tersebut sebagai fungsi waktu. Sebuah benda bisa memiliki stabilitas statik, dan dari segi dinamik bisa saja benda tersebut memiliki stabilitas yang positif, tetapi bisa jadi juga netral ataupun negatif. Hal ini dapat diamati dalam gambar 6.
Gambar 6. Stabilitas Dinamik
Dalam pembahasan mengenai kelereng didalam mangkuk, dikatakan bahwa setelah gangguan dilepas maka kelereng akan bergerak naik turun dinding mangkuk alias berosilasi bolak balik. Apabila amplitudo atau ketinggian maksimal yang dicapai kelereng pada suatu saat itu semakin lama semakin lebih kecil dibanding dengan amplitudo yang dicapai sebelumnya (karena gesekan dengan dinding), maka pada akhirnya kelereng akan kembali ke posisi ekuilibrium awalnya, yaitu didasar mangkuk dan diam disana. Untuk kasus ini kelereng disebut memiliki stabilitas dinamik atau stabilitas dinamiknya positif. Osilasi gerak kelereng bisa terjadi berulang kali banyak sekali, misalnya bila gaya gesek dengan dinding itu kecil sekali, atau bisa jadi hanya berulang sekali 2 kali saja apabila gaya gesek dengan dinding lebih besar. Misalnya saja dinding mangkuk dilapisi dengan kain kasar, maka gaya gesek dinding menjadi jauh lebih besar. Apabila gaya gesek dinding itu cukup besar, bisa jadi osilasi tidak akan terjadi dan kelereng akan turun langsung dari posisi terganggu kembali kedasar mangkuk tanpa osilasi. Dalam bahasa yang lebih umum, gaya gesek yang menghambat gerak kelereng dan memperkecil amplitudo osilasinya itu disebut damping atau penghambat gerak. Sebuah contoh damping yang kita kenal adalah sistem shock breaker (peredam kejut) mobil kita. Pada saat masih baru, damping peredam kejut itu masih besar dan mobil kalau terganggu terjeblos masuk lubang dijalan akan berosilasi sebentar dan kemudian kembali normal. Tetapi kalau mobil menjadi semakin tua, maka damping dari peredam kejut menjadi semakin lemah dan apabila mobil terjeblos lubang maka akan berosilasi cukup lama dan membuat mual perut.
Jadi dalam dinamik kita harus mempertimbangkan hal-hal seperti damping dlsbnya, dan bukan hanya sekedar kecenderungan awal untuk kembali ke kondisi ekuilibrium sebelumnya. Apabila damping bernilai nol, dapat dibayangkan bahwa lereng atau sistem akan berosilasi dengan amplitudo yang tetap sama besar, tidak mengecil dan sistem akan berosilasi untuk selama-lamanya. Dalam kasus ini sistem disebut memiliki stabilitas dinamik yang netral. Seandainya saja amplitudo osilasi sistem semakin lama bukannya mengecil atau tetap, tetapi meningkat maka sistem disebut tak stabil dari segi stabilitas dinamik atau sistem memiliki stabilitas dinamik yang negatif. Ini terjadi untuk komponen pesawat yang mengalami flutter, menerima tambahan energi yang terus menerus sebagai fungsi waktu dan amplitudo osilasinya semakin membesar dengan waktu sampai komponen tersebut patah.
Secara umum dapat dikatakan bahwa sebuah sistem dapat memiliki stabilitas dinamik yang berosilasi atau yang tidak berosilasi. Untuk modus stabilitas dinamik dengan osilasi, sistem harus memiliki stabilitas statik yang positif, Untuk kasus ini ada 3 kemungkinan yang terjadi yaitu stabilitas dinamik positif dimana amplitudo mengecil dengan waktu, stabilitas dinamik netral dimana osilasi terjadi terus menereus dengan amplitudo tetap, dan stabilitas dinamik negatif dimana amplitudo osilasi meningkat dengan waktu sampai akhirnya sistem gagal berfungsi atau rusak. Untuk kasus pergerakan tanpa osilasi, stabilitas dinamik juga ada 3 jenis. Dalam kasus stabilitas dinamik positif, gerak sistem diredam oleh damping dengan kuat sehingga sistem kembali ke kondisi ekuilibrium sekaligus, tanpa osilasi. Kasus ini membutuhkan persyaratan bahwa sistem memiliki stabilitas statik positif. Apabila sistem memiliki stabilitas statik yang netral, maka posisi sistem tidak akan berubah dengan waktu setelah gangguan dilepas. Disisi lain apabila sistem memiliki stabilitas statik yang negatif, maka sistem akan semakin manjauhi kondisi ekuilibrium dengan waktu, sampai akhirnya sistem menjadi rusak atau tak berfungsi seperti yang diharapkan.
Dalam perancangan pesawat, hitungan untuk stabilitas dinamik itu sangat sulit sehingga mustahil merancang pesawat dengan mempertimbangkan persyaratan-persyaratan stabilitas dinamik. Dalam prakteknya, pesawat dirancang dengan mempertimbangkan persyaratan-persyaratan stabilitas statik, yaitu pesawat harus dirancang supaya memiliki stabilitas statik yang positif. Pesawat yang dirancang berdasarkan pertimbangan tadi, diharapkan juga akan memiliki stabilitas dinamik yang positif. Tetapi ini bukanlah suatu kepastian. Itulah sebabnya mengapa pesawat harus diuji terbang sebelum bisa mendapatkan sertifikat laik terbang. Bisa jadi pesawat yang telah dirancang dengan sebaik-sebaiknya itu ternyata memiliki stabilitas dinamik yang kurang dari memuaskan, sehingga rancangan harus diubah diperbaiki. Jadi studi tentang stabilitas statik dan stabilitas dinamik adalah bagian penting dari pendidikan seorang insinyur aeronotika.
Trim atau Ekuilibrium dan Kendali Sebuah pesawat dikatakan dalam kondisi trim (atau ekuilibrium) apabila semua momen yang beraksi padanya, yaitu momen angguk, guling dan geleng, bernilai nol. Kondisi ekuilibrium atau trim ini pada semua kondisi terbang adalah fungsi dari kendali yang dilakukan oleh pilot, dan tab serta permukaan-permukaan kendali seperti aileron, elevator dan rudder. Perkataan “pengendalian” atau “controllability” mengacu pada kemampuan pesawat dalam menanggapi perubahan posisi permukaan kendali dan mencapai kondisi terbang yang diinginkan. Pengendalian yang mumpuni atau memadai harus ada pada sifat pesawat supaya mampu tinggal landas dan mendarat, dan melakukan berbagai manuver seperti belok dlsbnya dalam penerbangan. Pada dasarnya stabilitas dan pengendalian itu saling bertentangan. Pengendalian yang mencukupi mungkin tidak bisa terpenuhi kalau stabilitas yang memadai terpenuhi. Ini dapat dilihat pada gambar 5. Kelereng yang memiliki stabilitas statik yang besar dapat dibaratkan seperti berada dalam mangkuk yang sangat cekung. Kalau dilepas dari sisi atau dinding mangkuk pada ketinggian tertentu, maka kelereng cenderung menggelinding kembali ke posisi ekuilibrium. Kecenderungan atau stabilitas statik positif ini lebih kuat daripada stabilitas statik untuk kelereng yang berada di mangkuk yang tidak begitu cekung. Tetapi sekarang perhatikan bahwa gaya yang dibutuhkan untuk mendiamkan kelereng pada dinding mangkuk yang lebih cekung jelas lebih besar daripada gaya pada mangkuk yang kurang cekung. Jadi stabilitas yang lebih besar berdampak pada kenyataan bahwa dibutuhkan gaya yang lebih besar untuk melakukan manuver atau mengubah kondisi dari kondisi ekuilibrium Hal yang sama juga terjadi pesawat dimana pengubahan dari kondisi ekuilibrium oleh pliot dengan mengubah kedudukan permukaan kendali untuk bermanuver akan membutuhkan tenaga yang lebih besar sebanding dengan besaran stabilitas statik pesawat.
Jadi persyaratan stabilitas bukanlah stabilitas statik yang sebesar-besarnya, tetapi stabilitas statik yang secukupnya, tidak terlalu kecil tetapi juga tidak terlalu besar, supaya pesawat enak diterbangkan. Dalam pembahasan tentang penghambat gerak atau damping, telah dikatakan bahwa apabila damping terlalu kecil maka pesawat akan berosilasi setelah terkena gangguan. Untuk pergerakan longitudinal ada 2 kasus yang munkin muncul, yaitu “phugoid” dan “pilot induced oscillaton” (PIO) Dalam gerak phugoid pesawat bergerak naik turun seperti gerakan roller coaster. Walaupun pesawat bergerak mendongak dan menunduk, tetapi sudut serang pesawat tidak berubah karena jejak terbang pesawat juga naik turun sehingga arah gerak pesawat hampir sama dengan jejak terbang (flight path). Perioda osilasi ini sekitar 30 detik, dan dengan damping yang baik maka osilasi akan berhenti setelah beberapa osilasi saja. Dalam gerak PIO jejak gerak pesawat relatif datar tidak berubah ketinggian, tetapi sekedar mengangguk atau mendongak dan menunduk berulang kali dengan periode yang sangat cepat
Gambar 7.Gerak osilasi longitudinal (a) Gerak phugoid dan (b) Gerak PIO
Penyederhanaan gambar atau sketsa untuk tujuan analisa gaya dan momen yang beraksi pada pesawat Actual aircraft geometry
Gambar 8.Free Body Diagram
 
Sumber : (milis STT Adisutjipto Yogyakarta : stt-adisutjipto@yahoogroups.com)
Artikel Terkait

Komponen Utama Pesawat Terbang

(Jakarta, Gloopic) Menurut Judul pada Code of Federal Regulations 14 (14 CFR) bagian 1, Definisi dan Singkatan, aircraft adalah sebuah perangkat yang digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan dalam penerbangan. Kategori pesawat untuk sertifikasi penerbang termasuk pesawat, helikopter, lebih ringan dari udara, gaya angkat, dan glider. Bagian 1 juga mendefinisikan pesawat sebagai pesawat bermesin, sayap tetap lebih berat daripada udara yang didukung dalam penerbangan oleh reaksi dinamis dari udara terhadap sayap.
Meskipun pesawat dirancang untuk berbagai tujuan, kebanyakan dari mereka memiliki komponen utama yang sama.
Karakter utama sangat ditentukan oleh tujuan awal rancangannya. Struktur pesawat Kebanyakan adalah Fuselage (badan pesawat), Wings (sayap), empennage (ekor pesawat), landing gear (roda pendaratan), dan powerplant (mesin).
Gambar 1 : Komponen pesawat
Fuselage (badan pesawat)
Fuselage meliputi kabin dan / atau kokpit, yang berisi kursi untuk penumpang dan pengendali pesawat. Selain itu, fuselage juga bisa terdiri dari ruang untuk kargo dan titik-titik penghubung bagi komponen utama pesawat lainnya. Beberapa pesawat menggunakan struktur open truss. Badan pesawat dengan tipe open truss terbentuk dari tabung baja atau aluminium. Kekuatan dan kekakuan dicapai dengan pengelasan pipa satu sama lain dengan bentuk segitiga, yang disebut rangka batang(trusses).
Gambar 2 : Warren Truss
Kontruksi Warren Truss terdiri dari longeron, diagonal web members dan vertical web members. Untuk mengurangi berat, pesawat kecil umumnya menggunakan pipa aluminium campuran (Aluminum Alloy), yang dapat dirivet atau dibaut menjadi satu.
Sebagai teknologi berkembang, perancang pesawat mulai melapisi batang-batang truss untuk membuat pesawat lebih streamline, dan meningkatkan performa. Awalnya dilakukan dengan kain kain, yang akhirnya memberi jalan untuk logam ringan seperti aluminium. Dalam beberapa keadaan, skin luar dapat mendukung semua atau sebagian besar dari beban penerbangan. Pesawat paling modern menggunakan bentuk struktur skin yang dikenal sebagai nama konstruksi monocoque atau semi-monocoque.
Desain monocoque menggunakan skin stres untuk mendukung hampir semua beban yang dikenakan. Struktur ini bisa sangat kuat tapi tidak bisa mentolerir penyok atau deformasi permukaan. Karakteristik ini dapat dijelaskan dengan menggunakan kaleng aluminium tipis. Anda dapat mengerahkan kekuatan yang cukup besar sampai ke ujung kaleng tanpa menyebabkan kerusakan.
Namun, jika sisi kaleng tersebut sudah penyok sedikit saja, maka bisa akan runtuh dengan mudah. kontruksi monocoque yang sebenarnya terdiri dari skin, former dan bulkheads. Formers dan bulkheads memberikan bentuk untuk badan pesawat.
Gambar 3: Desain fuselage Monocoque
Karena tidak ada bracing member yang cukup,skin harus cukup kuat untuk menjaga pesawat tetap kaku. Jadi, masalah yang cukup penting dalam konstruksi monocoque adalah menjaga kekuatan yang cukup sekaligus menjaga berat dalam batas yang diijinkan. Karena keterbatasan desain monocoque, struktur semi-monocoque digunakan di banyak pesawat masa kini.
Sistem semi-monocoque menggunakan sub-struktur dimana kulit pesawat ditempelkan. Sub-struktur ini, yang terdiri dari bulkhead dan / atau former terbuat dari berbagai ukuran dan kerangka, memperkuat kulit dengan menyerap sebagian dari tegangan lentur dari badan pesawat.
Gambar 4 : kontruksi semi-monocoque
Bagian utama fuselage juga termasuk titik sambungan sayap dan firewall
Pada pesawat bermesin tunggal, engine biasanya ditempelkan di depan fuselage. Ada partisi tahan api antara bagian belakang engine dan kokpit atau kabin untuk melindungi penerbang dari accident engine fire. Partisi ini disebut firewall dan biasanya terbuat dari bahan tahan panas seperti baja tahan karat.
Wings (sayap)
Sayap adalah airfoil yang melekat pada setiap sisi badan pesawat dan permukaan pengangkat utama yang mendukung pesawat dalam penerbangan. Ada banyak desain sayap, ukuran, dan bentuk yang digunakan oleh berbagai produsen.
Setiap memenuhi kebutuhan tertentu yang terkait dengan performa yang diharapkan untuk pesawat tertentu.
Sayap dapat dipasang di bagian atas, tengah, atau bagian bawah badan pesawat. Desain ini disebut sebagai high-wing, middle-wing, dan low-wing. Jumlah sayap juga dapat bervariasi. Pesawat dengan satu set sayap yang disebut sebagai monoplanes, sementara pesawat dengan dua set sayap disebut pesawat biplanes.
Gambar 5. Monoplane dan biplane
Banyak pesawat high-wing memiliki bingkai eksternal, atau struts sayap, yang mengirimkan beban terbang dan pendaratan mendarat melalui struts dengan struktur pesawat utama. Karena struts sayap biasanya tersambung di tengah sayap, tipe struktur sayap ini disebut semi-cantilever. Pesawat terbang high-wing dan low-wing memiliki sayap kantilever penuh yang dirancang untuk membawa beban tanpa struts eksternal.
Struktur utama bagian sayap adalah spars, ribs, dan stringer.
Gambar 6: Komponen sayap
Ini diperkuat oleh trusses, I-beam, tabung atau perangkat lain termasuk skin. Rib sayap menentukan bentuk dan ketebalan dari sayap (airfoil). Pada sebagian besar pesawat modern, tanki bahan bakar biasanya adalah bagian integral dari struktur sayap atau tangki  fleksibel yang dipasang di dalam sayap.
Menempel pada bagian belakang, atau trailing edge dari sayap dua jenis bagian control pesawat yang disebut dengan aileron dan flap. Aileron memanjang dari sekitar titik tengah setiap sayap ke luar ke arah ujung dan dengan gerakan yang berlawanan untuk membuat gaya aerodinamis sehingga pesawat dapat bergerak roll. Flaps memanjang keluar dari badan pesawat mendekati titik tengah setiap sayap. Flap biasanya rata dengan permukaan sayap selama cruising atau terbang jelajah. Bila diperpanjang, flaps bergerak secara bersamaan ke bawah untuk meningkatkan gaya angkat (lift) sayap saat take off dan landing.

Empennage (ekor pesawat)
Nama yang benar untuk bagian ekor pesawat adalah empennage. Empennage ini mencakup kelompok seluruh ekorpesawat, yang terdiri dari permukaan tetap seperti vertical stabilizer dan horizontal stabilizer. Sedangkan permukaan yang bergerak termasuk rudder, elevator, dan satu atau lebih trim tab.
Gambar 7 : Komponen ekor pesawat (empennage)
Tipe kedua dari rancangan empennage tidak membutuhkan elevator. Sebaliknya, itu menggabungkan stabilizer satu bagian horizontal yang berporos dari titik engsel pusat.
Jenis desain ini disebut stabilator dan digerakkan dengan menggunakan batang kemudi, seperti pada elevator.
Sebagai contoh, saat anda menarik batang kemudi, maka stabilator pivot akan bergerak naik. Hal ini menyebabkan beban aerodinamis di ekor meningkat dan menyebabkan hidung pesawat bergerak naik. Stabilators memiliki tab antiservo yang memperluas trailing edge.
Gambar 8 : Komponen stabilator
Tab anti servo bergerak dalam arah yang sama dengan trailing edge dari stabilator. Tab antiservo juga berfungsi sebagai trim tab untuk mengurangi beban tekanan pada kemudi dan membantu stabilator untuk tetap pada posisi yang diinginkan.
Rudder dipasang dibelakang vertical stabilizer.
Selama penerbangan, rudder digunakan untuk menggerakkan hidung pesawat ke kiri dan kanan.
Gerakan rudder dikombinasikan dengan aileron selama penerbangan. Elevator, dipasang di belakang horizontal stabilizer, yang berfungsi untuk menggerakkan hidung pesawat up dan down selama penerbangan.
Trim tab berukuran kecil, bergerak pada trailing edge permukaan kendali. Pergerakkan trim tab dikendalikan dari kokpit, mengurangi tekanan kontrol. Trim tab dapat terpasang pada aileron, rudder dan / atau elevator.

Landing gear
Landing gear adalah penopang utama pesawat pada waktu parkir, taxi, take off atau pada waktu mendarat. Jenis yang paling umum dari landing gear terdiri dari roda, tapi pesawat terbang juga dapat dilengkapi dengan pelampung untuk operasi air atau ski, dan untuk mendarat di salju.
Gambar 9 : Landing gear
Landing gear terdiri dari tiga roda, dua roda utama dan roda ketiga yang bisa berada di depan atau di belakang pesawat. Landing gear yang memakai roda dibelakang disebut conventional wheel.
Pesawat dengan landing gear konvensional biasanya disebut sebagai pesawat tailwheel. Saat roda ketiga terletak di hidung pesawat, disebut dengan nosewheel, dan desain ini disebut dengan tricycle gear. Nose wheel atau tailwheel dimungkinkan untuk dikendalikan pada semua operasi saat pesawat di darat.

The powerplant
Powerplant biasanya meliputi mesin dan baling-baling. Fungsi utama dari mesin adalah untuk menyediakan daya untuk menghidupkan baling-baling. Hal ini juga menghasilkan tenaga listrik, menyediakan sumber vakum untuk beberapa instrumen penerbangan, dan di sebagian besar pesawat bermesin tunggal, menyediakan sumber panas bagi pilot dan penumpang. Mesin ditutupi oleh penutup mesin dari baja, atau pada beberapa pesawat, dibungkus oleh nacelle.
Tujuan dari cowling atau nacelle adalah untuk merampingkan aliran udara di sekitar mesin dan membantu mendinginkan mesin dengan ducting udara di sekitar silinder. Propeller tau Baling-baling, dipasang di bagian depan mesin, merubah gaya putar (rotating forces) menjadi gaya dorong (forwarding forces) atau disebut dengan thrust yang membantu menggerakkan pesawat melewati udara.
Gambar 10 : Engine compartmen
dari berbagai sumbe
Artikel Terkait

Bisnis Airlines

(Jakarta, Gloopic) Karakteristik Umum Bisnis Airlines
1. Industri jasa (service industry)
Bisnis jasa : memberikan jasa pada pelanggan, memindahkan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain dengan harga yang telah disetujui.
2. Padat modal (capital intensive)
Bisnis ini memerlukan dana yang besar tidak hanya pada awalnya tetapi secara terus menerus.
Membutuhkan banyak peralatan dan fasilitas yang mahal, dari pesawat sampai flight simulators untuk pelatihan dan hanggar untuk perawatan. Kebutuhan modal membutuhkan profitabilitas yang konsisten dalam jangka panjang.
3. Arus kas tinggi (high cash flow)
Bagi airlines yang memiliki pesawat sendiri, terdapat biaya depresiasi selama pemakaian : membutuhkan positive cash flow. Pada umumnya airlines menggunakan cash flow untuk membayar utang atau mendapatkan pesawat baru.
4. Padat karya (labor intensive)
Bisnis Airlines jenis ini mempekerjakan banyak karyawan dari berbagai tingkatan dan fungsi. Karyawan meliputi bidang operasional, teknik, manajemen dan perencanaan, keuangan dan organisasi.
5. Sangat terorganisir (highly unionized)
Industri ini penuh dengan peraturan-peraturan ketat.
6. Rentan terhadap perkembangan teknologi yang pesat dan akibatnya
Perkembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pesawat udara.
  • Pengurangan berat pesawat.
  • Penghematan bahan bakar.
  • Peningkatan ukuran pesawat udara.
  • Peningkatan kecepatan terbang.
  • Peningkatan jarak tempuh terbang
7. Pertumbuhan penerbangan tak berjadwal yang tinggi.
  • Pada awalnya berupa charter militer dan pemerintah serta perorangan/organisasi.
  • Kompetisi antar perusahaan charter menjadi ancaman perusahaan berjadwal.
  • Operasi dan batasan-batasan lain antara penerbangan berjadwal dan bukan menjadi tidak jelas dan sulit diatur.
8. Musiman (seasonal)
  • Di Eropa dan Amerika Utara, musim panas merupakan musim tersibuk adalah musim Liburan.
  • Di Indonesia, masa sibuk adalah musim lebaran.
  • Revenue bergantung pola perjalanan yaitu revenue mengalami kenaikan dan penurunan secara mencolok sepanjang tahun
9. Sifat Produk yang Khas
Produk dasar airlines :
  • Pelayanan asal-tujuan.
  • Jadwal perjalanan.
  • Ketersediaan kursi.
Produk pendukung :
  • Pelayanan pre-, in-, dan post-flight.
  • Customer loyalty program (FFP-Frequent Flyer Program).
  • On time performance (OTP).
  • Kenyamanan, tingkat kebisingan, kecepatan penerbangan (berkaitan dengan type pesawat).
Profit Margin yang tipis (Marginal Profitability)
  • Rate of return rendah.
  • Di US net profit bisnis penerbangan sekitar 1-2% lebih rendah dibanding rata-rata bisnis lain sekitar 5%.
·        
Kompetisi Airlines
Supplier
  • Industri manufaktur pesawat (Boeing, Airbus, dll).
  • Mempunyai kekuatan menentukan harga jual pesawat yang diproduksi dan dioperasikan airlines.
  • Persaingan antara moda (Intermodal Competition)
  • Alternatif pilihan moda lain yang dapat dipilih oleh penumpang pada segmen yang sama.
  • Persaingan pada biaya, waktu perjalanan, tingkat layanan.
  • Penumpang atau cargo (Customer)
  • Calon penumpang memiliki kekuatan untuk memilih airlines mana yang dipilih juga modus transportasi mana yang akan digunakan.
  • Pesaing baru yang berpotensi (Potential Entrants)
  • Masuknya airlines baru setelah deregulasi dengan karakteristik produk yang sama (homogen) à bersaing dengan airlines yang sudah ada.


Inter – Airlines Pooling Agreements
Persetujuan atau kompromi antar dua airlines yang beroperasi pada rute yang sama untuk saling berbagi pasar dengan tujuan :
  • Membagi kapasitas jika airlines yang satu lebih lemah dari airlines yang lain.
  • Contoh : Garuda Indonesia mempunyai kekuatan modal dan image yang lebih baik dibandingkan Phillipine Airlines dan keduanya sama-sama melayani rute Jakarta-Manila. Untuk memperkecil persaingan di antara keduanya, garuda Indonesia dan Phillipine Airlines membuat kesepatakan mengenai pembagian kapasitas, misalnya masing-masing mendapat 50% dari jumlah frekuensi yang disediakan pada rute Jakarta-Manila.
  • Menghilangkan kompetisi dalam frekuensi penerbangan serta meningkatkan load factor jika kedua airlines yang bersangkutan mempunyai kekuatan dan pengaruh yang hampir sama.
  • Contoh: Garuda Indonesia dan Royal Brunei Airlines dapat dikatakan mempunyai kekuatan yang sama di dunia transportasi udara dan kedua-duanya melayani rute Jakarta-Brunei Darussalam. Untuk memperkecil persaingan antara keduanya, Garuda dan Royal Brunei membuat kesepakatan untuk membagi frekuensi penerbangan, misalnya jika total penerbangan 8 kali penerbangan sehari, Garuda dan Royal Brunei masing-masing mendapat 4 kali rute penerbangan pada rute Jakarta-Brunei Darussalam.

Jenis-jenis Pooling
Revenue cost pool
  • Hanya satu airlines diijinkan untuk beroperasi melayani rute yang bersangkutan untuk kepentingan semua airlines yang terlibat dalam pool.
  • Biaya operasi dan pendapatan operasi saling dibagi di antara masing-masing airlines sesuai dengan kesepakatan yang ditetapkan sebelumnya.
Contoh: Suatu pool terdiri dari airlines A,B, dan C. Karena permintaan lalu lintas terbatas, maka disepakati agar semua penumpang pada suatu rute dalam suatu periode tertentu hanya dilayani oleh airlines A. Dengan demikian penumpang yang membeli tiket airlines B dan C pada rute tersebut, akan diangkut dan dilayani oleh airlines A disepakati akan dibagi bersama oleh ketiga airlines, msialnya airlines A mendapat 80% dari biaya dan pendapatan total, sedangkan airlines B dan C masing-masing berkontribusi 10% biaya dan pendapatan.

Revenue sharing pool
  • Semua airlines yang berada dalam satu pool melayani rute yang disepakati dengan komposisi kapasitas yang disanggupi. Seluruh pendapatan yang diperoleh pada sektor atau rute tersebut akan dibagi sesuai dengan konstribusi kapasitas yang disediakan masing-masing airlines.
Contoh: Untuk rute Jakarta-Brunei Darussalam disediakan 800 kursi penumpang setiap harinya. Garuda dan Royal Brunei melayani rute tersebut menyediakan pesawat udara dengan masing-masing jumlah total 500 dan 300 kursi penumpang. Dengan model kesepakatan seperti ini, Garuda akan mendapat porsi 5/8 dari seluruh pendapatan yang didapatkan kedua airlines  dan sisanya 3/8 milik Royal Brunei, tanpa bergantung pada jumlah penumpang total yang sesungguhnya diangkut oleh masing-masing airlines.

Inter-Airlines Royalty Agreements & Code Sharing
Inter-Airlines Royalty Agreements
  • Bila suatu airlines tidak memiliki kebebasan kelima dan ingin mendapatkan hak tersebut tetapi perjanjian bilateral tidak memungkinkan, airlines tersebut dapat membeli hak itu dengan membuat perjanjian royalti dengan airlines negara yang bersangkutan.
  • Saat ini juga berkembang untuk kebebasan keenam, ketiga dan keempat.
  • Terjadi bila salah satu airlines yang disepakati melayani rute yang disepakati dalam perjanjian bilateral memutuskan untuk tidak mengoperasikan rute tersebut.
  • Airlines lawan dapat mengangkut seluruh lalu lintas yang seharusnya diangkut airlines yang tidak beroperasi dengan membayar royalti sebagai kompensasi terhadap rute yang diberikan.
Code Sharing
  • Bentuk kerjasama antara dua airlines atau lebih untuk saling membagi akses pada sistem reservasi airlines sehingga seluruh jalur penerbangan yang dimiliki airlines yang satu dapat digunakan oleh airlines lain.
  • Airlines secara efektif dapat menggunakan sistem airlines lain untuk meningkatkan jangkauan pasar dari kota basis operasinya.
  • Otoritas untuk menjalankan dilakukan menurut pasar yang diinginkan.

Aliansi
Aliansi merupakan Komitmen antar airlines untuk mengejar kegiatan pemasaran bersama dan dipicu oleh kebutuhan mengembangkan network yang ada bersama airlines lain dalam memenuhi demand yang semakin bertambah.
Keuntungan airlines ikut aliansi :
  • Destinasi penerbangan bertambah.
  • Terjadi konsolidasi pasar.
  • Ada koordinasi jadwal.
  • Ada pertambahan market share dan juga revenue.
  • Biaya airlines dapat ditekan melalui :
  • Program maintenance bersama.
  • Program frequent flyer bersama.
  • Program pemanfaatan fasilitas bersama.
  • Program pengembangan IT bersama.

Program advertising bersama.
Program ini dilakukan dengan melakukan pengembangan pesawat bersama dan juga prosedur handling bersama di bandara (migration process, check-in process, seat assigment, baggage handling).
Market Share of World Airlines Traffic, 2003
Oneworld
American Airlines, British Airways, Aer Lingus, Cathay Pacific, Finnair, Iberia, LanChile, Qantas.
Star
United Airlines, Lufthansa, Air Canada, Air New Zealand, ANA, Asiana, Austrian, bmi british midland, LOT Polish Airlines, Mexicana, SAS, Singapore, Spainair, Thai Airways, Varig, US Airways, TAM.
SkyTeam
Air France, Delta Airlines, Aeromexico, Alitalia, CSA Czech Airlines, Korean Air, Northwest, Continental, KLM.
Keuntungan Beraliansi :
  • Meningkatkan kekuatan pemasaran.
  • Meningkatkan strategi jaringan, yang diberikan oleh dua jaringan operasi yang saling melengkapi.
  • Memungkinkan penerapan skala ekonomi dalam operasi
  • Memungkinkan operasi bersama dengan menggunakan pesawat salah satu mitra demi menghemat biaya operasi.
  • Memungkinkan peluang saling membagi slot di bandara-bandara yang padat.
  • Membuat takut airlines kompetitor yang bersifat predator.
Kendala Beraliansi :
  • Citra salah satu mitra dapat dirusak karena pelanggan memiliki persepsi bahwa kualitas airlines mitra tidak sebaik yang pertama.
  • Kesepakatan dalam memadukan jadwal penerbangan dan atau strategi pemasaran atau standar layanan yang diberikan tidak terlalu mudah dilakukan dan sering sekali memakan waktu.
  • Gaya manajemen dan budaya perusahaan mungkin berbeda sehingga menimbulkan banyak perselisihan yang membutuhkan upaya penyelesaian yang tidak mudah.
  • Saling membagi biaya dalam suatu layanan bersama juga sering menimbulkan perselisihan dan membutuhkan waktu yang lama untuk penyelesaian.
  • Aliansi tidak selalu memberikan keuntungan bagi semua pihak yang bermitra.
  • Strategi salah satu mitra mungkin perlu diganti agar mengakomodasi strategi baru yang disepakati.
  • Pemerintah mungkin menaruh curiga terhadap kolusi untuk mengurangi kompetisi dan meningkatkan harga tiket.

Merger dan Akuisisi
Tujuan dari merger dan akuisisi adalah :
  • Meningkatkan performa ekonomi (operasi dan pemasaran).
  • Penguatan finansial (kemampuan bertahan dalam roda bisnis, kompetisi, dan lower cost of debt).
  • Penguatan pasar (mengurangi kompetisi atau memperkuat kemampuan penyerapan pasar penumpang).
  • Biasanya, satu airlines lemah diakuisisi oleh airlines yang kuat.
  • Tipe-tipe merger adalah :
  • Horizontal : yaitu dua airlines atau lebih dengan kategori yang sama bergabung, contoh: PanAm dan National, United dan Capitol, Nortwest dan Republic.
  • Vertical : yaitu Airlines merger dengan perusahaan bukan airlines tapi masih berhubungan dengan produksi airlines seperti, perusahaan service, ground handling,konsesi bahan bakar di bandara.
  • Congeneric : yaitu merger atau akuisisi dengan perusahaan yang tidak memiliki hubungan secara vertikal atau horizontal, seperti hotel atau rental mobil, contoh: United dengan Westin Hotels, Psa dan Valcar.
  • Conglomerate : yaitu bersatunya dua perusahaan yang tidak berhubungan, contoh: TWA meng-akuisisi Century 21 Realtors, Hardee Restaurants, Hilton Hotel Internationals, dll.

Tipe-Tipe Kerjasama
Model Organisasi Airlines
Model tradisional
yaitu suatu model organisasi dimana Airlines menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan dengan fungsi dan service, model seperti ini digunakan oleh organisasi Airlines :
  • Delta
  • Iberia
  • Thai Airways
Model virtual
yaitu suatu model organisasi dimana Airlines mendelegasikan (outsource) beberapa atau sebagian fungsi dan kebutuhannya kepada pihak lain, model seperti ini digunakan oleh organisasi Airlinesi :
  • BA
  • EasyJet
  • Go
Model bisnis
yaitu suatu model Airlines memiliki sebagian unit bisnis yang mendukung operasi, tetapi pendapatan utama dari bisnis unit ini diperoleh dari pihak lain, model seperti ini digunakan oleh organisasi Airlines i:
  • Lufthansa
  • Singapore Airlines
  • Swissair
Traditional Airlines Model
 
Virtual Airlines Model
Aviation Business Model
By : Kang Igun
Dari berbagai Sumber.
Artikel Terkait